Pernah minum dari botol plastik lalu membuangnya begitu saja? Anda tidak sendiri. Tapi tahukah Anda sampah bahwa itu termasuk sampah anorganik , sebuah botol plastik yang digunakan selama 15 menit. Tapi jejaknya? Bisa bertahan lebih dari 400 tahun di bumi . Inilah wajah nyata sampah anorganik —limbah yang tak bisa terurai secara alami, seperti plastik, kaca, logam, dan styrofoam.
Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada 2023 menunjukkan, sekitar 34% timbunan sampah Indonesia adalah anorganik. Jenis anorganik paling dominan adalah plastik (17,6%) dan logam/kaca (5%). Dan sebagian besar berakhir di tempat yang salah: sungai, laut, dan tanah. Diperkirakan sampah plastik di laut Indonesia mencapai 620.000 ton per tahun, menjadikan Indonesia penyumbang sampah plastik laut terbesar kedua di dunia. Dampaknya tak main-main, hewan laut menelannya, kehilangan kesuburannya, bahkan mikroplastik kini ditemukan dalam tubuh manusia.
Apa yang bisa kita lakukan?
Mulailah dengan Reduce, Reuse, dan Recycle . Gunakan tas belanja sendiri, pilih produk tanpa kemasan plastik, dan dukung daur ulang. Banyak bank sampah yang menerima plastik dan mengubahnya menjadi barang baru!
Karena setiap sampah yang kita tolak, adalah satu napas lega untuk bumi. Mulai sekarang, pikirkan dua kali sebelum membuang plastik. Karena bumi tak bisa buang balik.
